Senin, 06 April 2009

Warung Gobek, Bebek Suroboyonan di Jogja

Salam jumpa! Sudah berapa tahun ya kita tidak bertemu? Kalau saya sampai turun gunung untuk menulis sesuatu, pastinya spesial dong. Puasa menulis saya ini harus diakhiri karena undangan dari (siapa lagi kalau bukan) Ibu Pemred. Topiknya: bebek.

Duh, rasanya memang nggak pernah puas kalau kita bicara soal unggas nikmat yang satu ini. Terus apa yang membuat Warung Gobek patut diperjuangkan? Karena eh karena, gosipnya, ini bebek goreng di Jogja yang berlanggam Suroboyo asli!

Hmmmm, jadi ayo coba kita cek faktanya.

Warung Gobek buka mulai jam lima sore di sebuah halaman jembar berpaving block di Jl. Nusa Indah 2, Condong Catur, Jogja. Dari Pasar Condong Catur, melaju terus ke utara sekitar 750 m, nanti di sebelah kanan jalan ada warung tenda berspanduk oranye di halaman sebuah rumah, nah itulah dia.

Saya disambut Bu Pemred yang dibalut halter top dari batik merah. Anting-anting besar turut bergoyang ceria mengiringi tawanya. Kami segera memilih lauk dari counter. Saya mengamankan sepotong dada bebek yang besarnya cukupan dan tempe yang selalu menjadi favorit.

Bu Pemred memilih seikat usus (karena ususnya memang diikat tali biar tidak terburai) dan sekerat empal. Kami menunggu di meja ditemani seorang pejuang yang sibuk menulis essay njlimet sebagai syarat melamar sebagai dosen (selamat berjuang!). Di atas meja ada sebuah besek anyaman bambu dengan dua mangkuk tembikar bertutup yang menebarkan aura jahat kotak pandora.

Tak lama bebek goreng dan kawan-kawan mendatangi meja kami. Tampilannya normal, yang tidak biasa adalah kuah kaldu bebek kental bersemu kekuningan di dalam mangkuk tembikar kecil yang turut menemaninya. Ternyata, item inilah yang melegitimasi Warung Gobek sebagai bebek goreng Suroboyonan yang sah di Jogja!

Memang sebegitu esensialkah cairan ini? Mari kita bahas lebih lanjut.

Bebeknya empuk dan gurih sekali. Harap diingat, gurih tidak sama dengan asin! Rasa gurih itu lebih tersembunyi. Memanjakan lidah dengan lembut dan malu-malu.

Lalu apa fungsi kuah-senjata-rahasia-di-dalam-mangkuk-tembikar-mungil?

"Itu buat disiram ke nasi atau bisa juga untuk celupan bebeknya," ujar Bu Pemred menerangkan CARA YANG BENAR memanfaatkan kuah itu. Saya yang penasaran segera membawa mangkuk mungil ke dekat mulut untuk menyeruputnya. "Ih, nggak kayak gitu!" Komentar tajam + tatapan melecehkan segera dilontarkan oleh Si Ibu melihat aksi yang menurutnya tak masuk akal. Ya maaf, Bu!

Rasa kuah itu memang kental dan gurih sekali. Cara yang paling asyik memanfaatkannya adalah: sobek sedikit daging bebek lalu celupkan agak lama ke dalam kaldu hingga meresap. Hasilnya sangatlah menakjubkan! Daging bebek yang lezat menjadi ekstra gurih dan sangat juicy!

Tapi ini belum akhir dari wisata indera pengecap kita di Warung Gobek, sama sekali belum!

Kejutan berikutnya tersimpan di dalam dua kotak pandora di atas besek bambu yang ternyata berisi dua macam sambal. Kabar gembira, di Warung Gobek kita bebas menyendok sambal sendiri! Langkah berani di zaman serba mahal ini. Untuk menghargai kebaikan hati ini, cicipi dulu sedikit sambalnya untuk mengukur seberapa kuat daya tahan Anda terhadap gempuran mereka. Nggak baik lho buang-buang sambal!

Untuk bocoran Anda, sambal yang berwarna lebih gelap adalah : Si Adik Kecil Yang Nakal. Sambal goreng yang lumayan bikin lidah berdecak tapi tetap menawarkan secuplik sentuhan rasa manis yang menggugah.

Sementara sambal yang berwarna kekuningan adalah: Sang Kakak Tertua Yang (Ya-Ampun-Tuhan) Amit-Amit Jahatnya! Sambal bawang beroktan tinggi ini dipastikan tidak hanya sekedar menggigit lidah Anda, tapi juga mencakar dan mengoyaknya hingga sobek-sobek! Pada akhir pertempuran Anda akan bertekuk lutut di bawah kakinya dengan perasaan puas yang sangat.

Itulah misteri dan kontradiksi sambal. Analisa saya, orang-orang yang suka pedas itu memang masokhis semua!

Masokhis tidak masokhis, nggak ada ruginya Anda bertamasya ke daerah utara untuk menikmati Bebek Goreng Suroboyonan dari Warung Gobek yang oke punya ini. Asal tahu aja, Warung Gobek ini tepat ada di depan kantor trulyjogja.com lho! Tapi jangan terlalu berharap untuk ketemu saya, karena setelah dua malam lidah saya dipermainkan Kakak Yang Jahat, saya segera bertobat, kembali naik gunung untuk melanjutkan pertapaan saya. Ketemu lagi kapan-kapan! (ang)

sumber : http://www.trulyjogja.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar