Di tengah-tengah perjalanan, terbersit ide untuk mencicipi sensasi susu kambing etawa, kambing lucu bertelinga panjang yang menjadi primadona di kawasan Pegunungan Menoreh. Sayangnya kami kurang beruntung dan harus cukup puas dengan secawan Dawet Ireng yang sekarang sedang ngetrend di kawasan Purworejo dan sekitarnya. Seperti namanya, dawet ini unik karena warnanya memang hitam, sekilas mirip gelapnya warna ketan item. "Mungkin dari tinta cumi - cumi", ujar Bu Pemred sok berspekulasi. Namun rasanya ternyata tidak seradikal warnanya, lumayanlah untuk modal tenaga pulang ke Jogja. Karena kasihan dengan motor, kami memutuskan pulang lewat jalur normal Jogja - Purworejo. Meskipun pada prakteknya kami sengaja menyesatkan diri lewat jalan kampung yang akhirnya bermuara di Godean.
Untuk makan siang hampir sore, Bu Pemred mengusulkan agar kami pergi ke . . . Cangkringan, nun jauh di Kaki Merapi. Ceritanya, dalam suatu perjalanan ke sana, Bu Pemred pernah melihat sebuah warung pinggir jalan yang menawarkan jamur favoritnya. Meskipun masih harus menempuh puluhan kilometer lagi, karena kami sedang berpetualang, jelas tidak ada yang tak mungkin. (kecuali jalur Pegunungan Menoreh tentunya >_<)
Nama tempatnya Umbul Merapi. Posisi geografisnya berada di pertigaan tusuk sate di suatu tempat di Cangkringan yang akan Anda lewati bila ingin pergi ke Padang Golf Merapi, agak susah diterangkan. Dari halaman warung yang cuma bertetangga dengan sawah dan ladang itu, Anda bisa memandang Merapi sepuasnya. Seturunnya dari motor, bagian belakang-tengah tubuh saya yang seharian menempel di jok sampai mengalami mati rasa! Untungnya Umbul Merapi berkonsep lesehan, jadi bisa rebahan sesuka hati. Ahhh, nyamannya, apalagi sambil dibuai sejuknya udara pegunungan.
Ternyata Umbul Merapi cuma menawarkan dua menu jamur dalam daftarnya. Jadi kami memesan satu porsi sate dan dua porsi Pepes Jamur. Karena belum sarapan (padahal jam sudah menunjukkan pukul 3 lebih!) saya juga memesan Nasi Goreng Ijo yang terdengar menggoda.
Pepes Jamurnya terbungkus daun pisang. Rasanya gurih dengan tekstur jamur tiram yang lembut keayam-ayaman (seperti daging ayam maksudnya). Semakin nikmat dengan tahu yang ikut di dalam bungkus daun pisang. Sate Jamurnya sekilas terlihat seperti sate usus ala angkringan. Aroma bawang merah mentah yang kuat berpadu dengan bumbu kecap membuat sate yang kenyil-kenyil ini menjadi penutup yang sempurna untuk hari petualangan kami berdua. Namun jangan lupakan Nasi Goreng Ijonya, karena nasi goreng non kecap yang gurih dengan potongan-potongan tipis buncis ini ternyata punya cita rasa yang cukup menawan. Dengan porsi merica yang nampaknya ekstra banyak, nasi goreng ini sangat cocok untuk menghangatkan badan di tengah sejuknya udara pegunungan.
Meskipun petualangan sehari saya dengan Bu Pemred sudah berakhir, bukan berarti saya bisa langsung pulang ke kos dan istirahat, karena tugas berikutnya sudah menanti. Seorang teman minta diantar ke . . . Bakmi Mbah Mo yang legendaris. Legendaris karena nikmatnya dan legendaris karena lokasinya yang berada di pelosok pedesaan Bantul . . . yang nuuuunn agak jauh di sana. Yah, saya pasti cerita kapan-kapan deh! (ang)
sumber : http://www.trulyjogja.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar